Dari Tak Ingin Generasi Muda Miskin Literasi, Sampai Impikan Punya Sekolah Alam

BULUKERTO – Majunya teknologi yang seirama dengan maraknya Gadjet di masyarakat saat ini, membuat generasi muda semakin menurun minat bacanya. Hal ini terlihat setelah virus Corona 19 mewabah di penjuru pelosok Indonesia, khususnya di Kabupaten Wonogiri, membuat generasi muda mulai anak usia TK sampai dengan perkuliahan yang awalnya dipaksa untuk selalu berhubungan dengan gadjet untuk belajar secara daring, namun justru diantara pelajar tersebut menggunakan gadjetnya tidak untuk literasi namun untuk bermain game.

Kecenderungan permainan game online yang dilakukan oleh pelajar saat ini hampir menjadi wabah virus baru yang harus ditangani sejak dini. Hal ini dikarenakan akibat game dan fasilitas gadjet yang serba ada serta mudah diakses, dianggap menjadi salah satu penyebab dasar penurunan literasi dan kepekaan sosial yang terjadi di kalangan pelajar saat ini.

Keresahan inilah yang membuat Agus Trianto alumni SMKN 1 Bulukerto angkatan 2015 ini, tergerak untuk mendirikan taman baca tradisional. Pasalnya virus game sudah mewabah di lingkungan kampong halamannya di dusun Tawang Rt 03/04 Desa Ngroto Kulon Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri.

“Kalau melihat anak saat ini pegang HP bilangnya belajar daring, tapi tidak tahunya hanya nge-game. Kalau ini tidak segera kita advokasi bisa berbahaya bagi generasi nanti,” katanya.

Impian yang terbangun melalui kebiasaan sering diskusi, berorganisasi, membaca di perpustakaan sejak masih di bangku sekolah serta bermodal nekat itu, akhirnya terwujudkan pada bulan Juli tahun 2020 lalu. Dimana awal pendirian taman baca ini, hanya bermodalkan uang hanya Rp 200.000, dan saat ini sudah berkembang dengan memiliki 300 buku.

Selain itu, taman baca yang terbangun diatas tanah pekarangannya ukuran 6 x 4 m, dengan bahan utama bambu, beratapkan kajang ini, diimpikan untuk menjadi tempat yang nyaman untuk pengenalan literasi baca tulis anak sampai pengenalan lingkungan social kemasyarakatan. Baik dari segi seni, budaya, maupun potensi local lainnya.

 “Saya ingin sekali ikut mengenalkan dan meningkatkan budaya literasi pada anak-anak, baik literasi baca tulis maupun literasi terhadap kepekaan terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan, serta pengenalan budaya local dan permainan tradisional agar tidak punah,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Agus pemuda kelahiran Wonogiri 22 Oktober 1996 yang saat ini masih menempuh pendidikan S.1 di Institu Agama Islam Sunan Giri Ponorogo serta selalu bangga pernah menempuh pendidikan di SMKN 1 Bulukerto ini, juga mengimpikan bisa memiliki sekolah alam.

“Alhamdulilah saat ini tiap hari taman baca kami tidak sepi pengunjung. Hampir tiap hari ada anak-anak, pemuda, orang tua, maupun tamu dari berbagai daerah dari kabupaten Wonogiri, Jepara, Boyolali, Ponorogo. Saya berharap nantinya punya sekolah alam, kelihatannya akan semakin bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya. (Humas SMKN 1 Bulukerto)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *